Ada sesuatu yang mengharukan tentang ritual terakhir untuk menghormati seseorang yang telah pergi. Tata cara salat jenazah perempuan sebenarnya mirip dengan laki-laki, tapi ada detail kecil yang membedakan. Pertama, posisi jenazah perempuan harus berada di depan imam jika yang menshalatkan laki-laki, sementara jenazah laki-laki sejajar dengan imam. Empat takbir menjadi rangkaian utamanya—setiap takbir diikuti oleh doa spesifik. Takbir pertama diawali dengan membaca Surat Al-Fatihah, lalu takbir kedua dengan shalawat Nabi, takbir ketiga berisi doa untuk almarhumah, dan terakhir takbir keempat dengan doa penutup.
Yang sering membuatku tertegun adalah filosofi di balik posisi tangan. Saat salat jenazah, kita tidak melakukan rukuk atau sujud, melainkan tetap berdiri dengan tangan bersedekap. Ini seperti simbolisasi bahwa kematian adalah perjalanan terakhir dimana kita hanya bisa mengirim doa. Untuk jenazah perempuan, beberapa ulama menganjurkan agar doa lebih spesifik menyebut 'haadzihil mar'ah' (perempuan ini) sebagai bentuk penghormatan terhadap gender. Ritual ini mengajarkanku bahwa kematian bukanlah penghabisan, melainkan pintu dimana kita semua akan melewatinya dengan cara masing-masing.