Wanita Kedua
“Aku harap lima atau sepuluh tahun ke depan kami akan mengenang semuanya dngan senyuman, tak ada lagi sakit hati, aku sadar jika kami berpisah tidak hanya aku yang akan terluka tapi juga anak-anak, bagaimanapun keadaan orang tua mereka anak-anak tetap ingin oarang tuanya bersama, melihat mereka tumbuh besar.”
Dina kembali berkata dengan menerawang, dia sungguh-sungguh berharap apa yang dia ucapkan menjadi kenyataan.
“Bagaimana dengan kamu sendiri, Bar?” tanya Dina.
“Aku...aku akan senang kalau Mbak Dina juga hidup bahagia, jujur saja aku sangat mengagui Mbak Dina yang mampu bertahan dengan semua ini,” jawab Bara terus terang.
Sikat na Kabanata