Sahabatku, CEO Dingin yang Menjadi Tunanganku
“Kamu mengagetkan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba manggil sayang.”
Rara mencondongkan tubuh ke meja, menatapnya lekat. “Kita butuh panggilan sayang. Biar nggak kelihatan kaku di depan orang tuaku nanti.”
“Harus?” tanya Satya.
“Harus.”
Satya tidak langsung membalas. Ia hanya menghela napas pendek.
“Menurutmu,” lanjut Rara, “panggilan yang bagus itu apa?” Ia lantas berpikir sejenak, lalu berkata, “Kalau ‘Honey’ gimana?”