Cinta Cita
Sambil menatap kendaraan yang berlalu lalang, Cita kemudian bercerita, “dulu, sepertinya aku punya perasaan ke Mas Nando. Aku selalu senang, kalau kamu ngirimin aku bunga, cokelat, parfum, atau barang-barang mewah setiap pulang dari luar negeri atau luar kota. Aku juga pernah ngerasa deg-degan sendiri, waktu kamu ajak candle light dinner. Tapi, aku juga ngerasa seperti layangan, yang cuma ditarik ulur semaunya Mas Nando.”
“Aku nggak pernah punya maksud seperti itu.”
“Aku ngerti.” Cita mengangguk paham dengan semua kesibukan Nando. “Tapi, pengertianku itu juga ada batasnya. Kalau Mas Nando bisa ngasih kepastian, mungkin aku nggak akan pernah nikah sama Pandu. Gimana, ya ... aku nggak mungkin
Bab Populer