Ada sesuatu tentang kursi cinta yang selalu bikin aku merinding. Di panggung, benda sederhana itu langsung menarik perhatian—seolah semua rahasia dan ketegangan berkumpul di sana. Aku suka memperhatikan bagaimana seorang penulis menempatkan kursi: di tengah ruangan, di sudut yang remang, atau bahkan berputar perlahan. Posisi dan kondisi kursi itu sendiri sudah bercerita tentang hubungan—apakah rapuh, nyaman, penuh luka, atau sekadar sandaran sementara.
Buatku kursi cinta adalah cara visual untuk menyuarakan hal-hal yang sulit diucapkan. Saat tokoh duduk, mereka membuka ruang untuk pengakuan; saat berdiri menjauh, kursi tetap seperti saksi bisu. Penulis memakainya untuk mempertegas dinamika kuasa: siapa yang mendapat kursi, siapa yang dipaksa berdiri, siapa yang membiarkan kursi tetap kosong—semua itu menunjukan hierarki emosional dalam adegan. Selain itu, kursi juga mempermudah koreografi emosi; gerakan kecil seperti menggeser kursi atau menarik napas di atas sandaran bisa menggantikan satu babak dialog panjang.
Aku masih ingat menonton sebuah drama yang menggunakan kursi sebagai memoar fisik—setiap bekas gores, lipatan kain, dan posisi kaki jadi petunjuk sejarah hubungan dua karakter. Itu membuat panggung terasa hidup dan berlapis-lapis. Jadi, ketika penulis memilih kursi cinta sebagai simbol, mereka sebenarnya memberi penonton alat untuk membaca, merasakan, dan menebak tanpa harus menuliskan semuanya secara gamblang. Bagi aku, itu adalah salah satu trik teatrikal paling jujur dan manis—sebuah benda biasa yang tiba-tiba menjadi saksi besar kisah cinta yang rumit.