ENAK, PAK DOSEN!
Mendengar Sagara membandingkan diri dengan tuyul, Ara tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya, bahkan sampai mengeluarkan air mata karena geli membayangkan Sagara yang merasa mirip Opet.
Setelah tawanya mereda, Ara menatap Sagara dengan tulus. Tak hanya itu, ia menyentuh area botak di kepala Sagara sambil memberikan solusi yang baru terpikirkan di kepalanya. “Kenapa bingung? Ada teknologi canggih di sini. Kalaupun nanti sulit tumbuh, kamu bisa coba transplantasi rambut.”
“Memang bisa?” tanya Sagara sangsi, tangannya refleks meraba kepalanya yang licin.
Capítulos Populares