Petaka Mendua
"Maafkan, Ais. Ais hanya kangen sama Kakak, di rumah ini sepi, Ais nggak punya teman."
"Akal-akalan kamu saja!" cetusku, kemudian aku memberikan kepada Bapak, surat-menyurat milik dua sejoli yang sok polos ini.
Mas Yusuf tercengang, wajahnya memucat, ia bahkan berkali-kali menyeka keringatnya.
Aisya, ia yang menundukkan kepalanya, tidak menyadari sesuatu yang Bapak pegang.
"Ais, jelaskan ini!" titah Bapak, seraya melempar kasar surat dari Aisya, untuk mas Yusuf, sebulan yang lalu.
Bab Populer