Dulu ada seorang guru SD yang selalu punya cara kreatif mengajar. Suatu hari, ia membawa sekarung kentang ke kelas dan meminta setiap murid mengambil satu, lalu menulis nama orang yang mereka benci di atasnya. Kentang-kentang itu harus dibawa kemana saja selama seminggu—ditaruh di tas, di bawah bantal, bahkan ke WC. Mulanya mereka tertawa, tapi lama-kelamaan lelah karena bau dan ribet. Di akhir pekan, sang guru tersenyum: 'Kebencian itu seperti kentang busuk—kita yang capek bawa-bawa, bukan orang yang dibenci.' Kelas langsung hening, tersentil maknanya.
Anekdot ini selalu melekat karena mengajarkan lebih dari sekadar teori. Pendidikan bukan tentang menghafal, tapi mengalami. Guru itu tak hanya pintar memilih metafora, tapi juga berani 'mengotori' proses belajar dengan realita. Murid-murid mungkin lupa rumus matematika hari itu, tapi pasti ingat bau kentang busuk dan arti memaafkan.