Cinta Pertama Mas Ali
"Sudahlah, Ibu akan urus pernikahan kamu sama Dinda setelah dia selesai masa Iddah. Kamu enggak usah khawatir lagi. Lagian, sejak dulu Ibu sukanya sama Dinda. Dia cinta pertama kamu, kan?"
Tak ada suara lagi, mungkin Mas Ali sadar kalau ponselnya masih menyala. Aku masih mendengar dengan jelas obrolan mereka tadi.
Tubuhku jadi panas dingin, semalam suntuk rasanya meriang. Untuk jalan ke kamar mandi juga susah karena kepalaku pusing. Kutekan kontak Mita, rekan kerja di toko Mang Ujang. Setelah lima kali panggilan, dia baru mengangkatnya.