Menuju Matahari
Ia tersenyum cerah.
“Selamat datang di Wukir Jumantara, Sahabatku, Saudaraku!”
Pangeran Wiratmaka mendelik.
“Loh, Wisnumurti…?”
Pramesti tertawa keras.
***
Dengan bertelanjang dada dan tubuh bersimbah peluh, Nara memacu kudanya secepat yang ia bisa. Tempatnya latihan bersama para prajurit Mataram lain memang terletak agak jauh di luar Weru. Karenanya, pada saat laporan penting itu datang, ia perlu waktu agak lama untuk kembali ke desa.