Jiwa Yang Terluka
"Kenapa kamu selalu bicara begitu? Kalau ada salahku di masa lalu yang membuatmu benci, katakan saja. Aku benar-benar tidak ingat."
"Ah, benar juga. Penyakit amnesia itu memang sangat menguntungkan, ya?" Ale melangkah maju, memperpendek jarak hingga napasnya terasa di telinga Alano. "Nyaman sekali rasanya melupakan teriakan minta tolong seseorang hanya karena kepalamu terbentur aspal. Kamu hidup seperti pahlawan, sementara orang yang kamu hancurkan harus memunguti serpihan jiwanya sendirian. Sangat mengesankan, Alano."