Cinta dan Dendam
“Peluangku untuk melahirkan anak, sudah tidak ada lagi.”
Kenyataan itu bagaikan sembilu tajam menusuk tepat di hatinya, membuat sebongkah hatinya di dalam sana berdenyut perih, sakit tak tertahankan. Ia berusaha menepis rasa panas di dada. Namun, semakin ditahan, hawa itu semakin menjalar ke ujung netranya. Pipi mulusnya tanpa terasa basah, buliran bening luruh begitu saja, melengkapi kesedihannya.
Tiba-tiba Maylin terkesiap saat merasakan sesuatu yang hangat menempel di pipinya dan seketika membuat air matanya berhenti menitik. Tangan kirinya menyentuh tempat yang baru saja dikecup Leonel.
Hot Chapters