Pengantin Tanpa Malam Pertama
“Tapi cara ngejar aku seperti ini, cara memaksakan kehendak, justru nunjukkin kalau belum berubah sedikit pun, Mas. Masih sama. Masih egois. Masih hanya peduli pada ego dan keinginanmu tanpa sedikit pun memikirkan traumaku!”
Kata ‘trauma’ dan sorot mata ‘jijik’ itu seperti menyulut sumbu pendek di kepala Reza. Selama ini, ia menghibur diri dengan keyakinan bahwa Almira hanya sedang marah, hanya butuh waktu. Namun melihat tatapan itu—tatapan yang biasanya diberikan pada sesuatu menjijikkan—membuat sesuatu di dalam dirinya retak secara permanen.