Ada sesuatu yang magis tentang prosa pendek yang bisa membenamkan pembaca dalam dunia kecil dalam hitungan detik. Kuncinya adalah memilih momen yang padat emosi atau visual—seperti potret seorang nenek meremas tangan di depan pintu rumah yang kosong, atau sorot mata anak kecil melihat balon lepas. Detail spesifik selalu lebih kuat daripada deskripsi umum. Aku sering bereksperimen dengan metafora tak terduga, misalnya membandingkan kesepian dengan 'lantai stasiun yang tetap basah meski hujan sudah berhenti'. Jangan takut memotong kata-kata yang tidak perlu; prosa pendek harus sesederhana lukisan tinta Cina, di mana setiap goresan memiliki bobot.
Hal lain yang kubiasakan adalah menulis ulang satu paragraf sampai terdengar seperti bisikan yang mengganggu. Prosa terbaik seringkali terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak kita dengar—rahasia yang bocor. Terkadang aku membacanya keras-keras untuk memastikan ritmenya pas, karena prosa pendek yang bagus harus enak dibacakan, seperti lirik lagu tanpa musik.