Yang Terpilih
Aku berusaha mengontrol bahasa tubuhku, tapi aku yakin gagal, Daddy pasti akan bisa melihat saat pupil mataku bergerak melebar, tumitku yang berjinjit tinggi, kebiasaan yang selalu aku lakukan apabila aku berada dalam euphoria, dan yang paling mencolok adalah senyuman lebar yang kuyakin begitu lebarnya hingga mulutku mungkin terbuka hingga mencapai ujung cuping telinga.
Tapi kenapa menghubungi Daddy??
Senyumku perlahan menghilang, begitu pun kerutan di dahi Daddy. Sekarang Daddy yang tersenyum lebar.
“Ada apa sih?” tanya Daddy, berdiri menghampiriku dan mengguncang tubuhku dengan pelukannya.
Ah, Daddy….
“Kok dari tersenyum lebar jadi kusut begini?”
“Kenapa Dave nelpon Daddy?” tanyaku sambil