Penguasa Benua Timur
Angin segar yang dibawa dari laut lepas juga hilir mudik memasuki lorong desa Malam hingga desa tersebut tetap nyaman ditinggali meski berada di dalam perut bumi.
Ketika baru menginjakkan kakinya ke desa Malam, tepatnya di punggung tugu patung pahlawan, Yang Zi menutupkan kedua telapak tangan ke mulut. Bayangan tentang desa Malam ternyata sama sekali berbeda dengan yang ada di kepalanya.
“Apakah mataku sedang tak sehat?” kini, gadis itu mengucek-ucek dua matanya dengan keras, nyatanya pandangan yang ada di depannya itu sama sekali tak berubah.