Rumah Tengah Hutan
ah, itu suara Ibu, aku masih ingat betul.
“Ini anak kamu, Iwan, telpon dari Surabaya!”
“Alhamdulillah. Apa dia sudah punya uang kok berani telpon rumah?” kata Ibu.
Aku tahu, kalimat itu hanya sebuah kalimat candaan akrab kepada Pak Rt, bukan berarti tidak suka ketika aku menelepon rumah. Inilah yang jarang dipikirkan oleh orang sekarang. Mereka hanya memikirkan kata-kata mesra yang menurut mereka indah. Mereka tidak tahu budaya desa kami, yang walaupun kasar tetapi mengandung keindahan dan kemesraan tersendiri. Jadi, jangan heran kalau jaman sekarang ada satu-dua kata kasar yang tidak disengaja berniat menghina disidangkan di pengadilan, atau dipersidangkan bahkan. Mereka harus belajar kepad
인기 회차