KAMAR KEDUA
Di sana sudah ada tong sampah yang diberi plastik, pagi tadi Satria yang menyiapkannya agar ia tidak pusing jika muntah sambil berdiri di wastafel.
Ia duduk. Tubuhnya membungkuk. Nafasnya memburu. Tidak banyak yang keluar, hanya rasa asam dan pusing yang membuat keringat tipis muncul di pelipisnya. Dio langsung jongkok di depannya.
“Ibun, ini…” Ia menyodorkan tisu. Tangannya kecil tapi sigap. “Aku ambilin air, ya?”
Sheza menggeleng pelan, masih mengatur napas. “Nggak usah, Sayang … udah. Nanti juga reda.”