Di versi yang pernah kubaca waktu kecil, ending 'Dongeng Kucing Gering' itu bikin mata berkaca-kaca. Kucing yang awalnya sombong dan egois itu akhirnya menyadari kesalahannya setelah semua temannya menjauh. Klimaksnya ketika dia terbaring sakit, justru tikus kecil yang sering dia bully yang datang membantu bawa makanan. Adegan terakhirnya sederhana tapi powerful: kucing itu pelan-pelain mengangguk, air mata menetes, sambil berjanji bakal berubah. Dongeng ini nggak pakai happy ending ala 'mereka hidup bahagia selamanya', tapi ending yang realistis tentang pertumbuhan karakter.
Yang bikin menarik, pesan moralnya disampaikan tanpa menggurui. Justru karena endingnya terbuka (kita nggak tahu apakah kucing benar-benar berubah permanen), ini jadi bahan diskusi seru waktu storytime di sekolah dulu. Aku sampai sekarang masih suka bandingin versi ini dengan adaptasi modern yang kadang romantisasi endingnya.