Gadis Bisu Tahanan Mafia
Matanya menatap Ema—wanita lima puluh lima tahun yang selalu sabar melayaninya, membersihkan kamarnya, yang kadang diam-diam menyisipkan kue kesukaannya di nampan sarapan.
Rasanya berat sekali untuk bicara. Tapi entah kenapa, bibirnya mulai bergerak pelan, membentuk kata tanpa suara, disertai isyarat tangan yang sudah menjadi bahasa mereka berdua sejak beberapa minggu yang lalu.
‘Dia datang, memaksaku’
Ema tak sepenuhnya mahir membaca isyarat, tapi ia sangat pandai membaca bibir. Setiap gerakan mulut Lintang ia amati dengan saksama.