Gairah Terlarang Di Bus Wisata
Dia mendekat ke telingaku, suaranya terdengar sangat dingin, seperti ular berbisa, “Aku nggak bisa menjamin apa yang terjadi di hutan hari ini akan diketahui oleh orang ketiga atau nggak.”
Usai bicara, dia melepaskanku. Lalu berdiri dan merapikan setelan jasnya, kemudian berbalik dan pergi.
Hanya meninggalkan diriku seorang diri, yang terduduk lemas di atas tanah yang dingin, merasa seolah-olah dilemparkan ke jurang es.
Di dalam bus saat perjalanan pulang, aku seperti sebuah boneka kayu yang kehilangan jiwanya.