KEMBALINYA SANG RATU
kata sang profesor dalam suratnya, “adalah suara yang telah lama kami tunggu dari Timur. Kau membawa angin baru.”
Di lembaga tua tempat filsafat Slavik dan Timur Tengah bersua, Lintang disambut dengan pelukan hangat meski suhu menusuk tulang. Di aula pertemuan, tak hanya para cendekia Rusia yang hadir. Seorang wanita tua dari Georgia yang dahulu menulis puisi dalam bayang-bayang Uni Soviet; pemuda Armenia yang mencari makna kebebasan lewat musik duduk bersila di dekat tungku; juga sekelompok pelajar dari Finlandia, Kazan, bahkan dari desa kecil di Siberia—semuanya datang demi satu hal: mencari arah hidup yang tak sekadar maju, tapi juga dalam.