Rindu yang Lupa
Awan-awan riang bertebaran, namun awan yang baik, bukan awan hitam pengantar badai atau pun hujan.
“Ibu benar, aku harus mampu terbang dengan akalku, bukan sayapku!” bisiknya pada malam yang tidak pernah mengerti.
Malam itu ia mendapatkan sebuah isnpirasi. Ia sering melihat kartun yang mampu terbang dengan bebas, menciptakan banyak hal yang mereka inginkan dalam sekejab saja dengan kosentrasi. Maka waktu itu, Fira tidak memejamkan kelopak matanya, ia mengunci pintu rumah. Melamun dengan khayalannya di ruang televisi. Layar mati itu menontonnya yang duduk khidmat, memejamkan mata, kedua tangan diletakkan di depan dada, ditangkupkan, laksana seorang bisu yang sedang bertapa. Dahinya berkerut-k
Bab Populer