Wiro sang Penakluk
Usianya sekitar akhir dua puluhan, berpakaian blazer abu-abu dengan rambut sebahu yang rapi, dan cara berdinya seperti orang yang terbiasa menjadi yang paling kompeten di ruangan manapun yang ia masuki.
"Priska," katanya, mengulurkan tangan. "Pialang saham, sudah enam tahun di sini."
"Wiro." Ia menerima jabatan tangannya. "Baru pertama kali."
Priska mengernyit tipis, tapi senyumnya tidak hilang. "Itu yang saya tidak mengerti." Ia menarik kursi di sebelah Wiro dan duduk tanpa menunggu dipersilakan — gaya orang yang terbiasa langsung pada inti persoalan. "Empat transaksi, empat posisi yang secara teknikal tidak ada yang merekomendasikan untuk masuk. Tapi kamu masuk semua, dan keluar di titik y