Terjerembap dalam Pelarian
Kata-katanya bagaikan permohonan, pengakuan, dan rantai sekaligus.
Aku mencoba bergerak, tetapi lengannya kaku, putus asa, dan gemetar.
Pada suatu titik, perlawananku pudar. Aku hanya berdiri di sana, detak jantungnya berdebar kencang di tulang rusukku.
Helaan napas panjang berhembus dari bibirku.
“Rangga,” kataku lirih. “Aku bukan seseorang yang pantas untuk membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Aku biasa saja, lupakan aku.”