Perjalanan Sang Perukiyah
“Aku pikirnya itu … maling. Jadi aku ikutin. Eh … pas sampai di luar aku kaget juga heran karena ternyata di belakang rumah Bulek itu ada pasar. Ramai sekali … bukan hanya penjual dan pembeli, tapi juga iringan gamelan.
“Saat aku sedang terheran-heran. Ada yang menepuk bahuku, saat menoleh. Kamu tahu siapa yang aku lihat, Mas?”
Bai menggeleng dan menunggu kelanjutan cerita istrinya dengan penasaran.
“Siapa, Sayang?”
“Perempuan tua yang waktu itu aku lihat sedang makan janin!” tekannya. “Perempuan itu mengusap perutku, Mas. Rasanya sakit sekali … aku jerit-jerit minta tolong, tapi nggak ada yang dengar. Sampai akhirnya aku … nggak merasakan apa-apa lagi.”