Renjana
itu aku merasa bersalah sama dia, gimana nih, aku takut sekali kalau identitasku sampai terbongkar, sini pinjam novelmu dulu,” pintaku mau menggunakan novel itu untuk menutupi mukaku yang ketakutan.
Mereka berjalan ke arah gerbang dan kebetulan kami duduk di kursi samping gerbang, sudah sangat terlambat bagi kami, terkhusus bagiku untuk kabur, karena mereka sudah melihat kami dan akan semakin mencurigakan jika aku terang-terangan “menghindar” dari dia.
“Rin, sudah pergi belum si Aditnya?” tanyaku setengah berbisik.
Namun Irine tidak menjawab pertanyaanku, dia diam, aku masih menyembunyikan wajahku dibalik novel berjudul “The Mint” dan tak berani memantau Adit.
Hot Chapters