Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu
ucap Bi Inah sambil meletakkan cangkir di meja.
Irisha mengangguk lemah. “Makasih, Bi.”
Bi Inah mengamati Irisha cukup lama hingga senyumnya mengembang, seolah menemukan sesuatu yang tidak disadari wanita itu.
“Non Irisha kayak orang lagi hamil, lho. Bibi dulu juga gitu—mual, lemes, nggak selera makan.”
Irisha tersentak. Cangkir nyaris jatuh dari tangannya. “Apa? H-hamil?” bisiknya, wajahnya pucat seketika.