Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku
Garis panjang dari pangkal jempol sampai tengah telapak, darah mengalir tanpa berhenti mengikuti bentuk jari-jari panjang itu.
“Astaga–Mas!” suara Anindya pecah. “Yang harusnya ditanya nggak apa-apa itu Mas, bukan aku!”
Gadis itu mendekat dan memegang pergelangan Arvendra, jemarinya gemetar hebat. “Mas, lukanya dalam, bisa infeksi. Aku panggil dokter, ya? Ada klinik 24 jam di dekat sini, aku–”
“Nggak usah.” Arvendra menggeleng sekali, tegas tapi dengan napas masih kacau. “Saya baik-baik aja.”