Dokter Tampan Pemikat Wanita
Sisi lain berdinding kaca transparan yang menunjukkan kepadatan kota dan langitnya yang masih saja terik.
"Kamu ambil kamar yang mana?" Kutunjuk dua pintu terbuka yang berhadapan lalu bersedekap, meletakkan buku-buku jari di ujung hidungku. Seperti berpikir, tapi jelas sudah tahu jawabannya. Dari tempatku berdiri, satu kamar memiliki ranjang berukuran super besar. Satu lagi dua kasur tunggal terpisah.
"Aku selalu suka ranjang besar, Bra," tunjuk Caca pada kamar yang sudah tentu berisi koper-koper besarnya. "Bathtub di tempatku pakai pemanas air."