Kala Cinta Menyapa
Seorang serdadu lokal berseragam Belanda bergerak cepat mengokang senapan, sementara si pemuda masih terus terpaku.
“BANGSATTTT…!!! JANGAN SENTUH CUCUKU, PENGKHIANATT…!!!” Dengan tangan yang penuh darah, sang kakek menarik kaki sedadu tersebut, sampai tubuhnya berguling. Merasa gerakannya terganggu, serdadu itu menghadiahi pukulan dengan popor senjata, mengenai tepat di ulu hati sang kakek.
“AARRGGHH!!!” Gerakannya semakin lemah, menahan sakit. Suara jerit, tangis, raungan, marah, semakin berkumandang. Nyanyian lara alam yang terusir kepongahan manusia.