Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
Duduk di sebelahnya, merengkuh bahunya yang bergetar.
"Aku tahu Ibu tega dengan kita. Tapi, aku merindukan Ibu. Aku kangen masakannya, Mbak. Bolehkan aku terus berharap bahwa suatu hari nanti Ibu pulang?" kata Rahma, air mata luruh di pipinya.
"Iya, boleh banget ...." sahutku lirih.
"Aku akan duduk di sini setiap sore menunggu Ibu pulang," imbuh Rahma, seraya mengusap pipi basahnya dengan punggung tangan.