Vonis Cinta Sang Hakim
“Saya cuma peduli satu hal, posisi di pengadilan makin tinggi. Kalau itu tercapai, urusan lain gampang. Soal anak kecil yang saya urus, saya hanya terpaksa menanggungnya."
Beberapa pejabat saling pandang, lalu mengangguk puas. Seolah menemukan sekutu baru yang dingin, tak punya beban moral.
Seorang pria yang lebih tua menyeringai, mencondongkan tubuhnya.
“Bagus. Aku suka pria yang tahu prioritas. Kalau kau memang cuma main aman, kita bisa kerja bareng. Tapi ingat, jangan sampai kau tiba-tiba lemah gara-gara perempuan. Itu kelemahan paling gampang dieksploitasi.”
Hot Chapters