ISTRIKU SERING MENANGIS
Aku menghela napas, menerima kekecewaannya terhadapku.
"Maaf, Pah. Maafkan aku," ucapku dengan amat menyesal.
"Suami macam apa kamu?" sentaknya. Bibirku sudah tak mampu mengelak ujarannya. Aku tahu betapa sakitnya hati seorang ayah, mengetahui anak wanitanya kini tengah sakit melawan penyakit yang sungguh serius.
"Pah, maaf kalau aku gagal menjadi seorang suami," lirihku.