Ada teman dekat yang sering menggunakan kalimat seperti 'aku selalu disalahkan' atau 'hidupku lebih berat dari orang lain'. Awalnya aku mencoba memahami, tapi lama-lama menyadari pola ini justru memutus komunikasi. Yang kulakukan adalah memberi jeda—tak langsung bereaksi emosional. Aku tanyakan contoh konkret dengan netral, misal, 'Bisa ceritakan situasi spesifiknya?' Kadang, ini membantu mereka melihat perspektif objektif. Tapi jika terus berulang, aku akan set boundaries dengan halus: 'Aku ingin dukung kamu, tapi sulit membantu jika yang kudengar hanya menyalahkan keadaan.'
Penting untuk tidak terjebak dalam drama mereka. Tetap empatik, tapi juga tegas bahwa hubungan sehat butuh tanggung jawab dua arah. Aku sering ingat quote dari buku 'Boundaries': 'Kita bisa peduli tanpa harus menjadi penyelamat.'