KAMASEAN
Kinara meneguk ludah, sebagai seorang ibu, ia tentu dapat merasakan bahwa putrinya itu sedang dirundung kesedihan, meski tidak tahu pasti apa yang sebenarnya yang sedang Sean tangisi.
Beberapa menit kemudian, Kinara pun memberanikan diri untuk memasuki kamar putrinya itu. Tampaklah Sean yang meringkuk memeluk guling. Kinara duduk di pinggir tempat duduk Sean sembari mengelus rambut panjang putrinya. “Apa kau bertengkar dengan Frans?” tanya Kinara dengan hati-hati.
Isak Sean semakin pecah mendengar nama itu. “Jangan sebut nama itu lagi, Bu! Aku tidak ingin mendnegarnya lagi!” tangis Sean.
Bab Populer