Dinikahi Putra Kiai
Setelah sholat berjama’ah, aku dan Aji keluar terlebih dahulu, sebab Abah masih mengisi kajian Tafsirul jalalain.
“Ji.” Aku memecah keheningan diperjalanan kami.
“Enggeh, Mas?” Aji antusias.
“Apa bisa aku menikah dengan tanpa cinta ya? Aku ragu Ji.”
“Makanya Mas, sebaiknya Mas berusaha mencintai dari sekarang, sebab pertunangan ini tidak mungkin lama, dengan segera Mas akan segera menikah dengan Hanna. Tapi jika pun memang belum bisa, yaa tidak apa-apa Mas, seperti yang aku bilang kemarin, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu Mas, apalagi kalau sudah nikah, selain Mas selalu melihat Hanna, semua kebutuhan Mas, Hanna yang urus.” Aji mendadak bijak, tapi memang dalam hal perasaan, a
Bab Populer