Ada sebuah kisah yang bikin hati meleleh dari teman kuliahku dulu. Mereka berdua kenal lewat komunitas kajian kampus, tapi sama sekali nggak ada niatan jodoh-jodohan awal mulanya. Yang cowok itu aktif banget jadi mentor, sementara si cewek rajin bikin konten dakwah digital. Mereka sering diskusi serius soal agama sampe larut malam, tapi justru di situlah chemistry-nya tumbuh. Aku inget banget si cowok pernah cerita, 'Aku jatuh cinta bukan karena dia cantik, tapi karena cara dia memandang Al-Qur'an seperti harta karun'. Proses ta'arufnya pun nggak instan—butuh 8 bulan buat saling mengenal keluarga dan memastikan visi hidup sejalan. Sekarang mereka punya bisnis thrift shop syariah bareng, dan yang paling cute, tiap Jumat pagi rutin live ngaji berdua di Instagram.
Yang bikin kisah mereka spesial itu justru kesederhanaannya. Nggak ada drama cinta segitiga atau orang tua nggak setuju, tapi lebih pada proses saling menguatkan iman. Pernah suatu kali si cewek dapat tawaran kerja di luar negeri dengan gaji gede, tapi mereka memilih untuk tetap di Indonesia dan membangun usaha bersama. Kata mereka, 'Rezeki yang ditempuh dengan menjaga syariat akan lebih berkah'. Sekarang udah punya dua anak yang lucu-lucu, dan rumahnya selalu jadi tempat ngaji para tetangga.