Mencuri Hati Tuan Hamish
“Oh, pasti. Aku memang suami perfect! Gak ada duanya. Ayo, coba. Kamu pasti akan menangis saking enaknya.”
Kalea mengangguk. Ia sudah mengambil sendok, tetapi ekor matanya malah tak sengaja menangkap sesuatu.
Wanita itu menoleh ke arah meja kabinet dan juga wastafel berikut kompornya. Semua alat masak bertumpuk-tumpuk, turun semua. Bersatu padu dengan aneka bahan makanan juga berbagai cangkang dan kantong plastik. Belum lagi serbuk putih-putih dari tepung belepotan di mana-mana. Tak ketinggalan pula dengan sisa minyak yang menciprat berkilauan di area kompor. Semua berantakan, semua kotor, semua kacau.