Membuat kumpulan cerita novel sendiri itu seperti merajut mimpi dengan benang kata-kata. Awalnya, aku selalu mengumpulkan ide-ide kecil di notes ponsel atau buku catatan—bisa dari obrolan random, mimpi aneh, bahkan pertengkaran di warung kopi. Kuncinya adalah konsistensi: menulis 500 kata sehari meski rasanya seperti mengunyah besi. Untuk tema, aku suka memilih satu payung besar (misalnya 'kehilangan') lalu mengeksplorasi sudut berbeda lewat cerita pendek yang saling terhubung atmosfernya. Contohnya, satu cerita tentang nelayan yang kehilangan perahu, diikuti kisah anak yang kehilangan mainan kesayangan. Tools seperti Notion atau Google Docs sangat membantu untuk merapikan draft dan membangun peta cerita.
Yang sering dilupakan adalah 'ritual editing'. Setelah naskah mengendap 2 minggu, kubaca ulang dengan suara keras untuk menangkap kalimat janggal. Aku juga meminta 3-4 teman dengan selera berbeda untuk memberi feedback spesifik ('adegan mana yang bikin bosen?' bukan sekadar 'ceritanya bagus'). Prosesnya memang seperti memahat patung dari bongkahan batu mentah, tapi kepuasan melihat antologi cetakan pertama di rak buku tak ternilai harganya.