Sang Pewaris Arogan
ia berhenti, matanya menusuk Adrian, “ingatlah, kursi itu bukan sekadar kemewahan. Kursi itu adalah neraka. Dan hanya mereka yang rela terbakar yang pantas duduk di sana.”
Ruangan hening sesaat. Kata-kata itu menggantung di udara, menusuk jantung Adrian. Lalu tepuk tangan pecah lagi, kali ini lebih keras, seolah para tamu terhibur oleh drama yang baru saja dimainkan.
Acara berlanjut dengan jamuan makan, musik klasik, dan percakapan politik. Adrian berusaha menegakkan badan, mengangguk pada setiap ucapan selamat, tersenyum pada setiap jabat tangan.
Sikat na Kabanata