Suami Perkasa
Bagi Sasa, malam itu adalah malam perebutan—sekaligus awal dari perangkap besar yang telah lama direncanakan.
Ketika akhirnya tubuh mereka menyatu akhirnya..Steve benar-benar jatuh dalam pelukan lelah, Sasa menoleh ke arah seprai putih yang kini ternoda. Air matanya mengalir, bukan hanya karena rasa sakit yang dirasakannya, tetapi juga karena kesadaran pahit: bukti itu akan menjadi senjata.
Di sampingnya, Steve sudah terlelap. Pelukannya masih erat, namun kata yang keluar dari bibirnya tetap sama: “Sukma…”