Antara Cinta dan Luka
Portofolionya penuh lagu-lagu indie yang ia tulis sendiri, tapi like dan share tak cukup membayar sewa apartemen yang telat dua bulan.
"Sebagai penulis lagu lepas, aku harus lebih baik," gumam Naya pada diri sendiri, jari-jarinya menari di keyboard laptop, mencoba menulis lirik baru. Tapi kata-kata tak mengalir, seperti sungai yang tersumbat oleh kekhawatiran. Jakarta bukan kota yang ramah untuk mimpi seperti miliknya—iklan radio kecil, cover kafe, itu saja yang ia dapat.
Suara adzan magrib bergema dari masjid di ujung gang, samar bercampur gemuruh hujan, mengingatkannya bahwa waktu berlalu cepat, tapi hidup mereka seperti terjebak di tempat yang sama.