Obsesi Suci
Dia menangis histeris dengan emosi yang meluap, tubuh mungilnya bergetar dahsyat.
"Bagaimana bisa aku terhasut olehmu dan mengkhianati Bibiku? Dia itu adik kandung ibuku!"
Setiap kata-kata Tina bagaikan pisau tajam yang menusuk jantungku.
Aku berdiri membisu, menerima segala kemarahan dan kekecewaannya.
Aku tahu, saat ini penjelasan apa pun akan terdengar hambar dan tak berarti.
Tina bangkit berdiri dengan air mata yang terus mengalir deras. Tanpa menoleh lagi, dia berlari keluar pintu, meninggalkanku sendirian yang tenggelam dalam penyesalan mendalam.