Pernikahan Penuh Dusta
Aku merasa, dengan status sebagai wanita yang pernah ditinggalkan tunangannya dan kini cacat, aku tidak layak mendampinginya.
Jadi, aku jarang mengirimkan dia pesan karena takut membebaninya.
Namun, kini aku sadar semuanya hanyalah perasaanku sendiri. Air mataku jatuh ke layar ponsel dan membasahi layarnya.
Saat mencoba menghapusnya dengan tisu, aku tanpa sengaja membuka sebuah pesan suara.
"Cari kesempatan untuk menggugurkan anak Lina. Sebaiknya lakukan diam-diam, jangan sampai dia tahu."