Lagu 'Stay High' selalu bikin perasaanku berputar—manis dan pahit barengan. Aku ingat pertama kali dengar melodi itu sambil mikir, dari sudut pandang liriknya si penyanyi lagi berusaha kabur dari rasa sakit. Secara harfiah, frasa 'stay high' di sini bukan cuma soal narkoba; itu lebih ke gambaran pelarian emosional—mencari sesuatu untuk menutupi kosong setelah putus atau kehilangan.
Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan nuansa yang tetap mempertahankan makna aslinya, bagian chorus bisa diartikan begini: 'Kau pergi dan aku harus tetap mabuk/terapung sepanjang waktu supaya tak memikirkanmu.' Baris lain yang sering muncul dalam lagu itu menggambarkan kebiasaan buruk seperti minum dan berpesta untuk menekan perasaan: 'Aku minum sampai lupa, aku merokok untuk menutup suara hatiku.' Terjemahan literal tentu mungkin kaku, jadi aku biasanya memilih versi yang lebih natural: 'Aku terus mabuk agar pikiran tentangmu tak menempel.'
Buatku, inti lagu ini adalah konflik antara kesadaran bahwa pelarian itu merusak dan kebutuhan kuat untuk menghindari rasa sakit sekarang juga. Saat menyanyikannya—atau sekadar mendengarkan—ada campuran emosi: marah, sedih, dan agak putus asa. Jadi, jika kamu mau terjemahan yang pas, pikirkan konteks emosionalnya, bukan hanya terjemahan kata per kata. Lagu ini lebih jadi cermin dari usaha manusia menghadapi kehilangan dengan cara yang salah, tapi sangat manusiawi.