ANAK TUKANG CUCI PIRING
Dia menyerahkan satu lembar uang dua puluh ribu.
”Nitah wae kamu, mah! (Nyuruh terus kamu, tuh!)” ucapku sambil terkekeh, Abel pun ikut-ikutan. Ciri khas ketawanya adalah bahu bergetar tanpa suara.
Saat keluar rumah, suasana ternyata begitu ramai. Semua orang nampak fokus menyaksikan para penyanyi kosidah di atas panggung. Langkahku hampir saja terhenti saat melihat sosok lelaki berkemeja batik duduk di salah satu kursi, di sampingnya ada gadis kecil dengan rambut panjang diikat dua dengan begitu rapi.