DIMADU TANPA RESTU
Jemarinya mengusap permukaan kaca dengan pelan, seolah ingin menyentuh kembali waktu yang telah lalu.
“Sekar... aku merindukanmu,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar, namun sarat luka.
Dalam diam malam dan kesunyian yang menggigit, air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tak lagi bisa menahannya. Penyesalan itu mengalir deras, menyatu dalam tiap isak yang tertahan.
“Andai waktu bisa diputar kembali...” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Suaranya pecah, penuh penyesalan yang mengakar.
Chapitres populaires