Dari Budak Menjadi Bencana
Figur itu memandangi kami, dan untuk sesaat, kilasan sesuatu yang lain—bukan keputusasaan, tapi sebuah penasaran yang kuno dan sedih—muncul di "matanya"
"Mungkin..." dia berbisik, suaranya hampir tak terdengar. "Mungkin... aku tidak harus melupakannya. Mungkin... aku harus belajar untuk mendengar Lagu itu lagi, lengkap dengan ratapannya."
Dengan kata-kata itu, pusaran itu tidak menghilang. Tapi sifatnya berubah. Dari sebuah lubang hisap yang aktif, ia berubah menjadi sebuah monumen yang tenang — sebuah "Danau Penyesalan" yang masih dan dalam. Masih menyedihkan, masih membawa rasa sakit masa lalu, tapi tidak lagi aktif memakan masa depan.