Aku Kembali Bukan Untuk Mencintai
Kalimat itu menghantam sesuatu di dada Aeri, lebih keras dari benturan punggungnya ke lantai barusan.
Ia teringat ibunya. Wanita yang selalu menunduk, selalu mengalah, membiarkan dirinya diinjak demi kedamaian yang tidak pernah nyata. Dan ia sadar, barusan di taman, ia mengatakan ingin menjalani hidup itu saja.
“Entah aku harus berterima kasih padamu atau aku marah padamu,” gumam Aeri, bangkit perlahan, tangan masih menopang lehernya yang berdenyut.